Makan untuk otak: Mengapa siswa harus memberi makan otak mereka

Seiring dengan dimulainya tahun ajaran baru, lebih dari 150 juta siswa pendidikan tinggi di seluruh dunia mempersiapkan hari pertama kuliah mereka. Bagi banyak siswa tahun pertama, ini adalah awal mula sebuah petualangan baru. Kemandirian baru ini membawa serta sejumlah perubahan penting.

campus-foodservice-2_525.jpg

Menciptakan Keseimbangan

Berbagai kajian menunjukkan bahwa para siswa mengembangkan pola yang tidak sehat di lingkungan yang baru. Dr. Catriona Davis-McCabe, seorang psikolok konseling di Universitas Teesside, Inggris, menyoroti makanan sebagai cara yang umum untuk mengatasi stress dan kecemasan. Dan tanpa arahan dari orang tua, tidak makan (khususnya sarapan), makan tengah malam dan nutrisi yang tidak berimbang menjadi hal yang umum.

Faktor-faktor ini ikut berkontribusi pada kenyataan bahwa adanya kenaikan besar dalam angka kelebihan berat badan dan kegemukan di kalangan orang dewasa muncunl di masa-masa kuliah (antara usia 18-29 tahun). Saking umumnya fenomena ini di Amerika Serikat sampai ada ungkapan "The Freshman 15" yang mengacu pada rata-rata kenaikan berat badan sebesar 15 pon (sekitar 6 kg) yang dialami para siswa tahun pertama.

Proses belajar yang dipertaruhkan

Dampak paling nyata dari pola makan yang buruk adalah kenaikan berat badan, namun dampaknya pada proses belajar juga harus diperhatikan. Komposisi otak memang hanya 2% dari berat badan, namun memakan 20% dari konsumsi energi tubuh.

"Agar otak kita berfungsi optimal, ia memerlukan tingkat glukos, elektrolit dan asam amino ayng mencukupi, dan semua didapat dari asupan makanan," demikian menurut ahli syaraf Matthew Stanford, guru besar psikokologi neurosains dan kajian biomedis dari Universitas Baylor. "Kekurangan salah satu nutrisi vital ini bisa mengarah pada kekacauan kognitif, pelupa, kurang konsentrasi dan suasana hati yang berubah-ubah."

Pihak universitas bisa ikut berkontribusi pada kesehatan serta kinerja akademis siswa mereka dengan menawarkan pilihan makanan yang seimbang dan murah. Beragam layanan inovatif Sodexo bisa membantu pihak universitas dalam hal ini.

Pilihan Makanan Sehat: pemicu kinerja siswa

campus garden grounds "Ini soal menjadikan pilihan sehat menjadi pilihan yang mudah," demikian Rozanne Moore, Direktur Nasional bidang Kebugaran Sodexo. Moore juga bertanggung jawab untuk Mindful offer dari Sodexo yang dirancang membantu para siswa mengenali pilihan makanan sehat. Mindful adalah pendekatan yang terfokus pada bahan, kualitas makanan, porsi dan kesadaran, sehingga membuat pilihan secara sadar menjadi hal yang terbiasa. "Pilihan sehat sudah tersedia, para siswa tinggal memerlukan cara untuk mengenalinya."

Pada saat yang sama, teknologi baru terus dikembangkan untuk menarik kalangan generasi ponsel, para anak muda, untuk bertanggung jawab pada kesehatan mereka sendiri. Aplikasi MyfitnessPal yang diusulkan sejalan dengan Mindful, memungkinkan pengguna dengan mudah melacak asupan makanan dan mengunduh informasi nutrisi dengan menggunakan barcode yang mudah digunakan. Seorang ahli nutrisi Sodexo bisa menjawab pertanyaan para siswa dan memandu mereka menuju pola hidup yang lebih sehat.

"Para siswa keluar dan membentuk hidup sendiri," menurut Moore. Karena itu ia menyimpulkan, "adalah tugas kita untuk membantu mereka membentuk keahlian hidup dan menunjukkan bagaimana keahlian ini bisa berdampak pada masa depan mereka."

Sebagai pemuka keals dunia dalam hal Layanan Kehidupan, setiap hari Sodexo membantu lebih banyak siswa untuk mencapai potensi akademis. Menyediakan makanan yang bernutrisi dan keahlian untuk mengambil keputusan sehat sendiri adalah beberapa cara yang kami tempuh.